Kamis, 26 Agustus 2010

E-Novel (electronic novel) part 9

Aku sudah mulai merasakan enak dan tidak enaknya tinggal bersama ka Fana, enaknyasih bisa ngobrol-ngobrol bareng dengan santai tanpa perlu pake bahasa baku kaya yang biasanya aku pake buat ngomong sama bapak dan ibu. Ga enak nya itu kalo ka Fana lagi bad mood terus marah-marah ga jelas, karena kalo lagi marah ka Fana itu gampang kesinggung, nanti marahnya makin menjadi jadi deh. Ya, namanya orang lagi marah.

"Ka, sekarang tanggal berapa?"

"Empat"
"Bulan?"
"Ya Juli lah! Mau apa tah Ran? Desember? Boleh ko"
"Oh iya ya. Yah, mana bisa nyambung ke Desember ka."
"He'eh ya? Tau ah. Kaka tidur dulu ya. Cape Ran, kalo kamu mau tidur, tidur aja Ran."
"Ran ga suka tidur siang"
"Kan cape abis jalan-jalan, masa ga cape"
"Runi kan kuat ka. Hehe"
"Yaudahlah, terserah kamu aja"

Ka Fana pun meninggalkan ku yang masih saja bosan di ruang tv. Karena bosan, aku menyalakan tv dan mencari saluran tipi yang seru atau asik lah. Tapi semuanya 'Garing'. Ada sih, film komedi-komedi gitu, ga tau judul nya apa, tapi masyaallah.. Itu garing banget ngelawaknya. Malahan bukan kaya ngelawak, kaya mamang angkot yang suka bilang ' Yoh, rau3x , ciamis3x, dago3x dan seterus nya lah ' . Tau gak kenapa? soalnya setiap pemeran cuma ngucapin satu kata. Si A ngomong ayam doang, si G ngomong ngecengin, si K ngomong Sapi, dan seterusnya. Bosen tau gak sih? Nontonin orang yang ngelawaknya kaya kumur-kumur, suara ga jelas. Heuh

Aku terus merenung di depan tivi yang layarnya item, tanpa suara, dan emang nggak di idupin. Mikirin apa yang seru untuk dikerjain sekarang. Kepikiran jalan-jalan keliling komplek, kaya waktu di Bogor, terus ketemu Caca lagi, terus jalan-jalan ke BTM. Huaah. 'Kenapa aku pindah yah?' sempet kepikiran lagi pertanyaan kaya gitu. Ga tau kenapa yah, di sini beda banget sama di Bogor. Bukan masalah suasana kota nya yang beda banget. Cuma hidup aku nya. Kalo di Bogor, aku jarang bengong-bengong kaya gini, palingan kalo nggak ada kerjaan, aku berantem sama Billa, terusnya main di depan rumah sambil baca buku. Ato nggak main ke rumah Taya, temen di koplek perumahan ku. Kalo enggak jalan keliling komplek, terus balik lagi ke rumah. Itung-itung olah raga kan?

Tapi kalo sekarang? Di rumah cuma ada aku sama ka Fana. Ka Fana juga kayanya sibuk terus sama urusannya sendiri, aku juga ngerti ko, ka Fana udah kebiasaan tinggal sendiri. jadi sekarang ka Fana agak-agak nggak nyadar kalo aku ini ada, dan tinggal menetap bersamanya. Terus, rumah ini adanya di pinggir jalan. Yaah, kan ga bisa keliling-keliling, dan ada lebih banyak mobil dan motor yang lewat depan rumah, kebayang dong kalo aku duduk-duduk di depan rumah? Itu polusi udah ngerusak kesehatan banget.

Aku juga sekarang baru mengenal Serang. Aku ga tau apa-apa yang ada di sini. Yaah, ada sih yang tau, indomaret deket rumah sama Ramayana serang tadi. Oh iya, sekolah juga tau. Tapi jalan nya ga bisa di hapal. Ke sekolah nanti katanya ka Fana mau nganter jemput aku selama satu semester. Tapi katanya, abis itu, aku mesti belajar mandiri. Euh, mandi sendiri. Maka dari itu, aku dan ka Fana sepakat untuk pulang pergi sekolah naik angkot selama 1 bulan di akhir semester. Sebelnya gini, angkot di Serang itu ga pake nomor, jadi nya mesti ngomong tujuan nya. Padahalkan, kalo di nomorin jadi lebih enak dan gampang. Hhh.. Harus belajar menghadapi perubahan yang amat-amat besar.

Makanan di sini juga beda sama di Bogor. Disini begini, di sana begitu. Kalo di sana sering makan ini, di sini sering makan itu. Bakalan ada makanan kesukaan yang baru nih. Yaah. Yang penting mah ada makanan. Dari pada kelaperan. Nah, sekarang kita lanjutkan saja dan percepat sampai hari dimana aku mulai sekolah.

Ini dia. Hari yang ditunggu-tunggu datangnya.Tiba juga hari ini. MOS akan segera ku hadapi. Heuh, gimana ya? Yang penting pagi ini aku sudah bersiap berangkat sekolah, sementara ka Fana masih berlibur 1 minggu lagi karena ia ga ikutan ngurusin MOS di sekolahnya, dan ga ada pelajaran di sekolahnya. Curang banget :(

Yang aku rasain itu rasa deg deg an, soalnya kata ka Fana, MOS itu dikerjain. Dan maka dari itu, aku sempet ga mau masuk sekolah. Tapi itulah, aku hadapi aja enaknya.
"Ayo Ran"
"Iya ka, bentar"
"Cepet dong. Ka Fana mau cepet-cepet tidur lagi"
"Yah, ka Fana malesan orangnya"
"Hih. Kamu nih."

Dan aku pun berangkat ke sekolah ku. Perjalanan nya sih ga terlalu lama. Cuma sekitar 10 menit aja dari rumah naik motor. Kalo naik angkot bisa 15 menit kali ya? Soalnya berenti-berenti melulu. Dan, tanpa basa basi lagi. Setelah aku sampai, ka Fana langsung ngebut se ngebut-ngebut nya. Dan tampak seperti orang yang ga niat naik motor.

Dengan jantung yang berdetak sangat kencang, ku masuki sekolah ku yang baru ini. Terlihat ada banyak siswa lain yang sepertinya berasal dari sd yang sama, sehingga mereka bisa berkumpul dan mengobrol layaknya masih berada di sd. Berbeda dengan ku yang cuma bisa plongo di depan gerbang dan memperhatikan aktifitas orang-orang yang melintas di depan ku.

TENG TONG TENG

Bel nya ahirnya berbunyi juga, tanda penderitaan ku berakhir, mungkin. Seluruh siswa baru dan siswa lama berbaris di lapangan menurut kelas nya. Dan ini dia barisan kelas ku, kelas 7d. Ku perhatikan satu per satu wajah teman-teman yang akan menjadi teman sekelas ku. Yang aku tau sebagian besar dari mereka berasal dari sd yang sama. Dan hanya ada beberapa siswa saja yang berdiam diri sendirian. Aku berbaris di barisan paling belakang, bersama seorang anak yang kelihatannya sendirian juga seperti aku. Ingin sekali aku tanya namanya, dan berkenalan. Tapi itu susaah banget. Rasanya takut dia ga suka sama aku, atau kata-kata aku ada yang salah, dan sebagainya. Tapi, tiba-tiba mataku tertuju pada seorang anak laki-laki yang berdiri di barisan depan, di barisan kelas ku. Ku perhatikan dengan sangat seksama, dan sangat teliti. Seragam yang dia pakai, sama dengan ku, itu tandanya SD nya dan SD ku sama. Muka nya masih sulit untuk dilihat. Tiba-tiba saja, rasa timbul rasa penasaran yang amat besar dalam diriku. 'Siapa ya dia?' Kalau dia memang teman SD ku. Aku merasa cukup beruntung karena ada orang yang aku kenal disini. Tapi itu memang masih kurang beruntung, karena di laki-laki. Kurang enak gitu loh, kalo bareng dia. Apalagi kalo dia udah punya temen laki-laki dan sangat akrab dengan nya, repot deh.

"Hei, kamu liatin apa?"
"Loh? Eh, nggak ko"

Beneran! itu kaget banget. Tiba-tiba si anak disampingku yang tadi itu berbicara dengan ku. Dia ngagetin banget. Soalnya aku lagi khusyuk bengong.

"Oh, maaf saya ya nanya"
"Eh, ga apa-apa kali"
"He, aku Oni. Nama kamu siapa?"
"Oh, kalo aku Runi, panggil Ran juga boleh"
"Ran? Keren banget nama kamu"
"Eh, nggak ko, biasa kali, nama pasaran. Nama kamu yang bagus, unik"
"Iya gitu? Makasih ya. Nama kamu itu bagus juga Ran, banget malah"
"Hehe, makasih Ni."
"Sama-sama. Emm, kamu bukan dari sini ya?"
"Iya, ko tau?"
"Seragam kamu tulisannya Bogor"
"Oh. Oh iya ya?"
"Yah, kamu."
"Kalo kamu dari sini?"
"Iya, dari TK sampe sekarang di Serang terus"
"Wah, lahir di Serang?"
"Kalo lahir sih, di Semarang. He"
"Emm. Iya iya."

Dan ahirnya kami diam mendengarkan ceramah yang diberikan guru yang katanya bernama Pak Sukma. Setelah waktu berjalan sekitar 20 menit, ceramah nya baru selesai, berarti itu namanya bukan kultum. Karena emang ga ngebahas ceramah agama. Yang dibahas visi misi sekolah lah, peraturan lah, dan yang gitu-gitu. Tiba juga saat nya murid baru memasuki ruangan kelas nya masing-masing. Dengan di bimbing oleh kaka pembimbing nya, kami murid 7d masuk ke kelas yang lumayan besar, dan adem karena ada pohon mangga besar di depan kelas.

"Oke semuanya. Gimana kabarnya sekarang?" kata kaka no.1
"Baik"
"Nah, karena kalian baru masuk ke sekolah ini, maka kalian harus mengikuti MOS, ada yang tau kepanjangan nya?" kata kaka no.1
Salah satu temanku mengangkat tangan
"Masa Orientasi Siswa"
"Iya, benar" kata kaka no.1
"Udah sih, langsung aja. Kenalin diri, terus kenal-kenalan semua siswa nya, ga usah pake begituan segala" kata kaka no.2
"Yaudah deh" kata kaka no.1
"Nah, jadi kita kenalan dulu ya, nama kaka Yasmin."
"Kalo kaka, namanya ka Sinta"
"Kalo kaka yang ini namanya ka Putri"
"Kalo kaka, yang paling ganteng pastinya, namanya ka Riko"
"Dih, narsis banget lo Rik" kata ka Sinta
"Yang penting hepi" kata ka Riko
"Udah ah. Nah, kan udah pada tau nama-nama kaka nya, jadi sekarang tinggal kalian yang ngenalin diri satu-satu ya. Mulai dari kamu. Sebutkan nama, asal sekolah, dan alamat rumahnya" kata ka Yasmin sambil menunjuk seorang anak yang duduk di bangku paling depan sebelah kanan
"Nama saya Galih. Saya dari SD 13 Serang, rumah saya di Jl. Parang No.12"
"Nama saya Deni. Saya dari SD 4 Bogor, rumah saya di perumahan Puri"
Hah? Dia? Deni? Temen sekelas ku waktu SD kelas 6? Sekarang sekelas dengan ku lagi? Waw. Sekarang kita percepat bagian ku dan anak yang lain. Biar cepet beres ceritanya.


"Oh. Oke, berarti ada 2 anak yang berasal dari luar kota. Kamu, siapa tadi? Oh iya, Deni dan kamu yang dibelakang itu, siapa tadi namanya?" kata ka Putri
"Runi"
"Nah iya, Deni dan Runi. Pas dong Ni-Ni?"
"Nenek aja sekalian Put" kata ka Riko
"Nah, itu ajalah ya. Udah pada tau nama temen-temen nya kan? Jadi, sekarang ka Putri kasih waktu 10 menit untuk kenal-kenalan sama temennya." kata ka Putri
"Dan, ketika udah 10 menit, kalian harus bisa nyebutin minimal 7 nama temen kamu, dikit kan? Baik kaka mah, dan jangan lupa tunjukin orang nya yang mana. Ngerti?" kata ka Yasmin
"Iya ka"
"Nah, mulai dari.. SEKARANG"
Anak-anak pun ribut bertanya nama masing-masing, sementara kaka pembina keluar kelas dan tampak santai. Aku agak khawatir, yang aku tau cuma Oni aja. Oh iya, sama Deni juga.
"Hei, nama kamu siapa?" tanya 2 orang anak perempuan
"Eh, Runi"
"Oh, aku Aca"
"Kalau aku Sela"
"Oh, iya. Makasih ya."
kemudian aku ikut pecicilan kaya anak yang lain, berusaha untuk inget nama dan muka nya, ternyata ga semudah yang ku kira. Dan ahirnya aku cuma dapet 6 orang, yaitu Oni, Deni, Aca, Sela, Galih, dan H
era
. 3 cewe dan 3 cowo.
"Oke semua nya. Waktu habis, sekarang kaka mau tunjuk orang yang terpilih"
Deg. Jantung ku kaget banget, aku takut di tunjuk dan ga bisa jawab terus nya nanti dihukum, dan aku dihukum sendirian. sedih! Serem banget. Takut hukumannya aneh-aneh. Takut dimarahin, takut macem-macem. Pengen nangis banget :'(

"Kamu." Kata ka Riko pada ku
AArrrgghh. Kenapa? Kenapa mesti aku yang pertama? Heuuuh! :(( bad mood ah.
"Sa, saya ka?"
"Ya iye lah, ayo sebutin."
"Emm, yang itu Oni, itu Aca, itu Sela, terus itu Galih, mm, itu Hera, sama itu Deni"
"Udah? satu lagi dong"
"Emm, mm, eeuh.. Nama kaka aja boleh ga ka?"
"Hahahah" Mantep! Hampir sekelas pada ketawa :((
"Boleh boleh, ga apa-apa, sok sebutin, tapi semuanya, ga boleh satu aja"
"Mm, iya, ini ka Riko, ini ka Sinta, ka Putri, sama ka Yasmin"
"Nah, yee! Bisa kan? Oke deh, yang lain. Cari mangsa lagi" kata ka Sinta
Heeuufff.. Tenang deh sekarang. Tapi tetep aja tadi malu pisaaan, diketawain anak sekelas, terus nya jawabnya asal lagi. Huh, apa awalnya emang gini ya?

"Kamu nih, yang ini, siapa namanya?" kata ka Yasmin
"Sela"
"Bisa sebutin tujuh?"
"Insyaallah ka"
"Oke, coba buktikan"
"Hem,itu Aca, itu Runi, itu Deni, itu Galih, yang itu Fega, mm itu Oni, sama terahir Titi"
"Oke deh. Lulus yah? Sekarang cari satu lagi aja deh. Yang mana ya?" kata ka Riko
"Cowo dong Ko. Masa cewe terus sih? Cowonya kan juga kepengen dipilih tuh"
"Oh, gitu yah? Kalo gitu, Putri aja yang milih, dia mah ahli"
"Eh, apa tuh maksudnya? Tapi oke deh, dari pada ka Riko yang milih, mending ka Putri dong. Iya kan?"
"Lah. Ga ada yang ngejawab, kesian deh lu"
"Kamu, berdiri sebutin 7 temen mu"
"Saya ka?"
"Iya kamu. Deni bukan?"
"Iya ka"
"Yaudah, sok"
"Galih, Runi, Aca, Oni, euh.. Sela, Hera, sama.. Ilo"
"LULUS. Hore.. Berterimakasihlah kalian yang udah diwakilin sama tiga temen kalian tadi. Soalnya kalian jadi ga usah nyebutin. Dan turut berduka untuk yang dipilih, mungkin lagi ga hoki"
"Yah, Sin, pikiranmu hoki-hoki-an, yang penting udah kenal kan? Sekarang kita mau main games ga?" kata ka Yasmin
"Mau" kata siswa 7d ga serempak, ada yang ketinggalan, ada yang kecepetan
"Ada yang punya usul mainan ga? Yang punya permainan gitu?" kata ka Putri
"Ga ada?" kata ka Sinta
"Kalo gitu kita yang pilih mainan nya ya. Ga ada yang ngasih usul sih" kata ka Riko
"Ka" Tiba-tiba Galih angkat suara
"Iya, kenapa Lih?"
"Ekhm, Putri udah afal. Keren deh"
"Em. Ka, boleh usul sesuatu ga ka?"
"Ya boleh lah, asal yang bagus, apa gitu?"
"Pilih sistem organisasi kelas nya ka. Kaya ketua kelas, wakil, sekertaris, yang gitu-gitu deh ka"
"Oh iya. Bener! Ampir aja lupa. Makasih ya kamu" kata ka Sinta
"Iya ka"
"Kalo gitu. Ayo voting angka. Nominasi KM maju!"
Heran, bisa gitu ya, ada yang berinisiatif mau jadi salah satu dari petugas kelas yang kaya gitu. Padahalkan kalo jadi kaya gitu repotnya ampuun.

"Bagus, ada 4 anak atas dasar kemauan sendiri. Sekarang kalian liat baik-baik, ini Galih, ini Hera, ini Surya, dan ini Ilo, ingat-ingat! Sekarang tutup mata, jangan ngintip, angakat tangan yang Galih"
"Lumayan tuh, ada 9 kalo yang Ilo?"
"4 orang, Surya?"
"5 tuh, terahir Hera sisanya, angkat tangan ayo yang Hera"
"7 deh sisanya."
"Sekarang boleh buka mata, dan kita pilih Galih sebagai KM, Hera jadi wakilnya, Surya sekertaris, terahir Ilo bendahara. Itu dulu aja, nanti yang lainnya urusan kalian. Ga campur tangan kaka pembina oke?"
"Oke"
"Sekarang main dong, ga main-main nih"
"Itu aja. Biar sekalian" kata ka Yasmin
"Apaan?" kata kaka yang lain

Ka Yasmin pun tampak membisikkan sesuatu kepada teman-temannya. Serius sekali, seperti itu rahasia terbesar di dunia yang tidak boleh di ketahui kami, sang bocah-bocah petualang. Ahirnya rapat kaka-kaka itu dibubarkan

"Nah, kita udah dapet mainan nih, namanya amoba. Mau nyoba ga?"
"Mauu"
"Cara mainnya gampang ko. Misalnya kaka bilang 'buat amoba 2orang berdasarkan yang rumahnya deket' nah, itu berarti kalian bikin kelompok, terdiri atas 2 orang yang rumahnya deketan. Ngerti ga?"

"Berdua aja ka?"
"Enggak. Tergantung, kalo kaka bilang 'buat Amoba 2 orang' berarti 2, 3 orang berarti 3, dan seterusnya. Ngerti ga? Ada pertanyaan lagi?"
"Nggak"
"Oke, kita mulai, dari ka Sinta dulu yang ngomong"
"Ok deh, makasih, hemm. Buat amoba 3 orang berdasarkan inisial nama nya"
Wadoh. Anak-anak seliweran berlalu lalang di dalam kelas, aku sendiri juga bingung siapa yang inisialnya R. Tiba-tiba ada anak cowo yang teriak-teriak 'Yang R yang R, mana?' tanpa basa basi, ku datangi aja itu orang, dan kami mencari 1 orang lagi, datanglah sang manusia yang ditunggu, di cewe, dan kelihatannya sangat pendiam.

Kulihat ada beberapa temanku yang ga kebagian temen, karena ga ada yang inisialnya sama. Tapi aku paling kasian sama Oni. Coba sih, sekarang kan jarang banget inisial O, makanya aku bilang nama dia unik. Soalnya ga pasaran, tapi keunikan itu berahir buruk :( Lebih parahnya lagi, ternyata Oni sendirian, tapi nggak juga sih, ada satu cowo yang inisialnya Y katanya, nambah repot.

"Nah, inikan cewe satu, cowo satu. Mau di kasih hukuman apa nih?" kata ka Putri
"Jodohin, jodohin" kata anak-anak segampang nyobek kertas
"Jangan, apa ya? Yang rada-rada mendidik ga ada?" kata ka Yasmin
"Jawab pertanyaan" kata seorang anak
"Nah, boleh tuh, apa pertanyaannya?" kata ka Sinta
"Kaka yang ngasih" kata anak itu lagi
"Hmm, berapa nomor hape kaka?" kata ka Riko segampang-gampangnya
"Yaah, jangan gitu geh Ko. Gini, em. Apa warna cat sekolah?"
"Kuning" jawab Oni dan anak Y itu serempak, tapi rada cepetan Oni
"Oke deh, boleh gabung sama temen-temennya lagi deh."
"Sekarang amoba yang baru, oleh ka Yasmin"
"Nah, buat amoba 7 orang berdasarkan kepada sesuka hati"
Sunyi
"Maksudnya amobanya terserah pilih temennya, yang penting7 orang"

Langsunglah semua murid berlarian dan menggandeng temannya, seperti soulmate yang mate banget. Tiba-tiba Oni datang dan menggandeng ku

"Ran, bareng. Awas kalo nggak."
"Ya iyalah akus ama kamu, da aku ga punya temen lagi"
"Jangan gitu dong, cari lagi yok"

Aku dan Oni berjalan kian kemari, padahal masih di dalam kelas yang besarnya mungkin bisa dikategorikan kedalam kelas yang sedang, turun kebawah dikit aja, mungkin bahasa enak nya 'hampir kecil'. Tepat. Dan ga tau kenapa, tiba-tiba Galih dan Deni sudah bersatu ke dalam kelompok kami. Jadi kami hanya perlu mencari 3 orang lagi, dan entah kenapa, Aca dan Sela pun ikut-ikutan masuk ke kelompok kami. Yah, baguslah, ga usah repot nyari, mangsa udah dateng sendiri. Satu lagi deh, siapa ya? Nah, kami memusatkan pandangan pada seorang anak Y yang barusan dihukum itu. Dia tampak sendirian dan belum dapat kelompok sama sekali, kami berinisiatif untuk mengajaknya ke kelompok kami.

"Hei, udah dapet kelompok belum?" kata Galih, dia emang pantes jadi KM, bijaksana sih
"Belum, ga ada temen sih"
"Mau gabung ga? Kita kurang satu" kata Aca
"Boleh nih? Kalo boleh sih mau"
"Oke deh, kita udah ber-tujuh" kata ku
"Yee" kami bahagia :))

"Nah, Udah pada dapet semua belom?"
"Saya belom ka"
"Oh, anak nya 29 ya? Dibagi 7, berarti lebih satu. Kamu ya?"
"Iya ka"
"Kalo gitu ga apa-apa deh, kamu masuk aja ke salah satu kelompok, pilih aja mau yang mana, ada 4 tuh."
"Iya ka. Makasih"
Tadi nya kupikir amak itu mau bergabung ke kelompokku, soalnya aku pengen dia bisa hepi hepi bareng kita yang disini. Tapi kayanya dia udah punya temen akrab di kelompok sebelah.

"Nah, kelompok amoba yang ini bakalan di jadiin kelompok buat kalian nginep di sekolah nanti. Tapi, tapi tunggu, kan ada cewe cowo ya satu kelompok? Iya kan? Nah, kalo tidur tetep cewe cewe cowo cowo, tetep dipisah ya cewe cowo nya, tapi kalo ada kegiatan cewe cowo nyampur. Oke? Paham?"
"Iya ka"
Ku dengar ada beberapa murid yang ber-yes-yes ria, ada pula yang mengeluh pelan karena mungkin ia terpisah dari kawan-kawannya. Tapi satu yang ku tau. Aku tau kalau kelompokku bahagia semua.
"Sekarang kalian kasih nama kelompok nya ya. Namanya terserah, mau D'Massiv ke, mau Vidi Aldiano ke, mau jeruk, mau apel, mau kucing, awan, meja, ka Riko and geng, segala bolleh."

Teman-teman di kelompokku mulai berunding tentang nama kelompok kami
"Gimana kalo 'De Monsta'? Bagus ga?" kata anak Y itu
"Hem, tapi sebelum itu kita mesti kenalan dulu dong. Mau ga?" kata ku
"Boleh lah. Sampe lupa kenalan, nama saya Galih, ge a el i ha, Galih."
"Sayah Deni, Deenii"
"Aku Aca. Tapi bukan Acha septiasa"
"He, baru mau bilang gitu. Kalo saya Sela, es e el a"
"Aku Runi, eh, panggil Ran juga boleh ko"
"Oni, perlu dieja? o en i? udah kan? puas?"
"Haha. Kalo aku nih, Yega. Mantep kan?"
Ooh.. Namanya Yega, sekarang ga manggil manusia Y atau anak Y lagi deh :(

"Jadi namanya?"
"Kalo gabungin nam kita gimana?"
"Ntar, di tulis dulu" kata Aca
"Gausah, langsung aja" kata Deni
"Okeh deh. Biar ga boros kertas juga" kata Aca sambil terkikik geli
"Galih, Deni, Aca, Sela, Ran, Oni, Yega"
"Hem.. Gadecalaraniga"
"Walah? Nama apaan tuh? kepanjangan, tapi lumayan keren sih"
"Ganti, apa ya? Em, huruf G, D, A, S, R, O, Y" kata Galih
"GDSROY?"
"Ya nggak lah, di rangkain jadi bagus, misalnya, Sadyrog" kata Galih
"Sadyrog? Mmm, kayanya terlalu aneh deh"
"Iya juga ya. Apa dong?" kata Galih
"Dygosar!" kata Sela lantang
"Waw. Bagus juga tuh"
"Dan ga kepanjangan"
"Mau Dygosar? Ato dimodif lagi? mungkin 'The Gysar'? Atau 'De Gossar'? Mungkinkah?"
"Kayanya aku pilih Dygosar aja deh, biar lebih mampangin nama kita gitu tuh" kata ku
"Oke. Sepakat. Namanya 'DYGOSAR' DEAL?"
"DEAL"
kami pun melakukan acara tos-tos an yang lumayan bikin tangan merah.

Inilah dia, awal dimana kami ber-tujuh menemukan nama 'Dygosar' yang sebenernya usul Sela. Tapi usul Galih juga untuk gabungin inisial, pokonya nama ini nama milik kita, kita punya nama 'Dygosar' dan kita sangat bangga. Hehehe.

Naah,gimana? seru tidak?
Semoga seru, oh ya bagi yang nganggep ceritanya
rada-rada lebay, maap banget.. ga ada inspirasi sih..
Terus maaf ya kalo kebanyakan dialog
ga bisa bikin kata-kata ceri yang bagus
atau ada yang berpendapat kebanyakan
tulisan, maaf itu ketudak sengajaan
adapula kesamaan nama atau peristiwa
ini tidak disengaja. Mau tau kelanjutannya?
Jangan menyerah, jangan putus asa,
nantikan terus kelanjutannya
di 'Menu Blog'

Selasa, 24 Agustus 2010

E-Novel (electronic novel) part 8

Garing banget sih itu percakapan. Bosen deh, hari ini bakalan di rumah aja sama ka Fana, bengong aja nontonin tipi sama makan keripik. Euh, bosen ah. Aku sudah dapat menebak hari ini akan sangaaat tidak seru dan tidak berkesan juga. --" aahh.. MALES. Tapi tiba-tiba..

"Runi! Mau jalan-jalan ga?"
Suara ka Fana memecah lamunanku. Padahal, aku sedang asik bengong di kamar. Aku keluar kamar, dan,
"Kemana ka?"
"Ya, jalan-jalan aja gitu. Mau ga?"
"Ka Fana ga ke sekolah nih? Lagi sibuk enggak?"
"Mm, ke sekolah kurang kerjaan, mending ke tempat seru. Lagian ka Fana ga sibuk ko"
"Ya udah deh, kalo gitu, Ran mau"
"Oke deh. Jam setengah sebelas berangkat yah? Biar makan siang nya di luar"
"Oh iya ka, dibayain kaka kan?"
"Waah, kamu inget aja. Iya dong"
"Oh, oke oke. Runi siap-siap ya?"
"Terserah ah, padahalkan masih lama Ran, baru aja jam sembilan"
"Kan Ran kalo mandi lama"
"Em"

Dan yaudah deh. Aku mandi, pake baju yang biasa nya aku pake (kaos pendek sama celana jeans), terus nge-cek hape, takut-takut ada sms. Dan tiba-tiba kau inget sama sms yang tidak dikenal pengirim nya itu. Segera ku raih hp ku, dan keluar kamar untuk menemui ka Fana, tapi ka Fana ternyata lagi mandi, yaudah. Kutunggu sampai ka Fana selesai mandi dan siap. Ka Fana mengajak ku untuk berangkat tapi

"Ka Fana! Mau tanya boleh?"
"Boleh. Apa?"
"Kaka tau nomor ini?" ku berikan hp ku pada ka Fana
Ka Fana meraih hp ku dan membuka hp nya. Ia nampak sedang mencari nomor itu di daftar kontak nya
"Di kontak kamu ga ada? Kamu ga punya temen yang nomornya ini?"
"Tidak"
"Hem. Kalo ka Fana sih ngerasa nya pernah liat nomor yang banyak 3 nya kaya gini, dan belakang nya juga 69. Tapi di kontak kaka ga ada. Siapa ya? Kaya nya, temen kaka pernah sms kaka pake nomor ini. Tapi, kemaren kaka nge-delete semua sms."
"Yaah. Padahal Ran penasaran banget sama pengirim sms itu"
"Dia udah berkali kali sms kamu?" Ka Fana kaget melihat inbox ku yang tertera nomor itu lebih dari sekali.
"Ran, kalo kamu di sms dia, kamu bales apa?"
"Ga bales sama sekali"
"Dia pernah nelepon?"
"Enggak sih"
"Hemm." Ka Fana berpikir layaknya detektif yang mencari pelaku pencurian.
"Eh, yaudah deh ka. Kalo ka Fana ga tau juga ga apa-apa. Ini kan cuma kalo ka Fana tau aja. Makasih ya ka"
"Oh. Eh, yaudah deh, kalo gitu berangkat yu"
"Ayo"

Ka Fana pun menaiki motornya dan aku pun duduk dibelakang nya. Ka Fana bilang, kami akan ke ramayana Serang. Ya udah deh, ikutan aja, aku kan belum tau banyak daerah sini.
Dan sampe juga deh, kalo menurut pendapatku. ramayana Serang itu masih kalah ketimbang BTM di Bogor. Di Serang lebih kecil, lift nya geje, toilet nya ga keurus, tempat makannya ga seru, dan ga terlalu lengkap mall nya. Bingung ah ngejelasin nya. Pokonya kalo menurut aku, dari luar, ramayana Serang itu lumayan lah, bagus bagus gitu deh. Tapi dalemnya itu rada-rada kurang meyakinkan :P

"Udah sampe, turun yuk."
"Iya"
Aku masih merasa asing di sini, kurang bersahabat. Aku pun mengikuti ka Fana masuk ke mol.
"Mau apa dulu nih? Makan dulu aja kali ya?"
"Kan bukannya barusan makan?"
"Ih, tadi kan makannya dikit, ga kenyang dan lain-lain. Udah deh, gausah mikirin bayar, ka Fana traktir"
"Hehe, kaka tau aje"
"Heuu"
"Makan apa?"
"Kamu maunya apa?"
"Apa ya? Ada nya apa?"
"Ada macem-macem sih, tapi kayanya mendingan KFC aja ya?"
"Oh, yaudah"

Kami pun berjalan beriringan menuju KFC. Disana aku memesan 1 nasi ayam, ka Fana pun begitu. Dan kami makan di lantai atas KFC itu. Rasanya sih sama aja kaya KFC KFC yang lainnya. sama-sama ayam ko. Tapi yang beda itu suasanaya, disini lebih rame dari pada di Bogor, gatau kenapa. Padahal kan Bogor lebih gede dari Serang. Apa karena cuma ini mol satu satu nya di Serang ya? Jadi semuanya numpuk disini, beda sama Bogor yang ada macem-macem mol.

Ahirnya, setelah selesai melahap santapan lezat di KFC, ka Fana mengajak ku main di arena bermain yang bisa disebut semacam 'timezone' tapi bukan itu namanya, aku lupa dan tidak terlalu ingat. Pokonya aku dan ka Fana main disana sekitar 30 menit. Lumayan sih, seru seru aja, tapi masih tidak terlalu mengesankan. Meskipun aku lebih seneng kaya gini daripada bengong di rumah kurang kerjaan. Seselesainya bermain koin, aku dan ka Fana melihat-lihat buku di toko buku yang tak jauh dari arena bermain itu. Ka Fana sempat menawarkan aku untuk membeli buku seperti ka Fana yang memborong 4 buku sekaligus. Tapi aku belum menemukan buku yang tepat. Setelah berputar-putar sekitar 20 menit, aku menemukan buku yang tampaknya seru dan menarik untuk dibaca. Ka Fana berniat membayarnya untuk ku, tapi aku ingin membeli nya dengan uang ku sendiri, itu lebih menyenangkan di banding dibayarin.

Setelah itu semua, ka Fana menawarkan aku untuk melihat-lihat setiap toko yang kamu lewati, meskipun nggak semuanya. Sempat aku melihat jam coklat yang berhiaskan daun daunan, aku sangat tertarik, dan ka Fana membelikannya untuk ku, karena uangku kebetulan tak cukup, tapi aku berniat untuk mengembalikannya nanti. Ka Fana juga membeli sebuah gantungan hp, gelang kayu yang unik, dan juga bingkai foto. Ahirnya, dengan membawa beberapa kantong plastik kecil, aku dan ka Fana pulang ke rumah, tapi sebelum itu, ka Fana membeli 1 pizza ukuran kecil dulu. Wahaha, kayanya ka Fana bener-bener lagi banyak uang nih sekarang :D

Sesampainya di rumah
"Heuh. Gimana Ran? Mantep gak?"
"Lumayan sih ka. Luayan ngures tenaga"
"Hah. Bener tuh, tapi asik kan?"
"Ya iya dong"
"Ya iya lah kali :P"
"Hahah, itu ajalah"

Aku sudah mulai merasakan enak dan tidak enaknya tinggal bersama ka Fana, enaknyasih bisa ngobrol-ngobrol bareng dengan santai tanpa perlu pake bahasa baku kaya yang biasanya aku pake buat ngomong sama bapak dan ibu. Ga enak nya itu kalo ka Fana lagi bad mood terus marah-marah ga jelas, karena kalo lagi marah ka Fana itu gampang kesinggung, nanti marahnya makin menjadi jadi deh. Ya, namanya orang lagi marah.

Duh, Sedikit yah?
Maaf yah kalo sedikit dan kurang memuaskan
Karena lagi bingung nih..
Tapi jangan menyerah, jangan putus asa
nantikan aja terus kelanjutannya
di "Menu Blog"

Sabtu, 21 Agustus 2010

E-Novel (electronic novel) part 7

Waduuh. Sms apalagi ini? Kenapa dia tau masalah ka Fana kemaren? Siapa sih dia? Aku bingung banget, emm.. Tanya ka Fana aja ah, kalo ka Fana udah bangun. Aku pengen cepet-cepet tau identitas orang ini..

Sambil nungguin ka Fana bangun, aku nonton tipi sambil makan keripik kentang seperti yang biasanya ku makan. Rada lama sih nungguin ka Fana bangun, tidurnya pules banget. Saking lamanya ka Fana bangun, aku makan duluan aja deh. Kebetulan ada makanan di kulkas, jadi bisa dimakanlah, lumayan :)

Tiba-tiba aja, tanpa diundang, ka Fana ngagetin aku yang lagi serius nonton tv.
"Hayoo. Ran makan duluan ya? Jahat nih ya? Ga ngajak-ngajak kaka"
"Em, lagian, ka Fana nya lama banget bangun nya, ya udah deh, Ran makan duluan"
"Haah, yaudahlah. Tapi, tumben nih, kamu bangun pagi"
"Emm, nyindir ya ka? Iya sih ka, yang bangunnya jam 0 lebih 1 detik"
"Yaah, kamu. yaudah deh, ka Fana juga mau makan ah. Dadah"
"Yaudah, ayo sana cepet, heheh"
"Huh! Kamu jadi ade galak banget sih? Wooo!"
"Wuu!"

Ka Fana pun pergi meninggalkan ku. Yang penting, yang aku tau, ka Fana ga marah, karena sebelum meninggalkan ku, ia tersenyum garing dulu. Baru deh jalan ke dapur. Itu terbukti kalo ka Fana bisa nganggep itu semua bercanda. Aku pun kembali khusuk menonton acara tivi yang makin lama, makin ga jelas. Hingga sampai ahirnya ka Fana datang membawa semangkok makanan yang enggak aku ketahui apa itu. Ka Fana meletakan mangkok nya di meja di depan ku, dan pergi ke dapur lagi. Kenudian kembali membawa dua gelas air putih.

"Makasih ka, udah ngambilin minum"
"Hah? Ke-ge'er-an deh kamu. Ini buat ka Fana tau"
"Kan dua gelas ka, satu nya buat siapa?"
"Eh, kamu tau ga? Sekarang ka Fana lagi aus, jadi ini buat ka Fana semua, hahaha"
"Ihh, jahat. Kirain buat Runi yang satunya."
"Hem. Enak aja. wee :p"
"Ka Fana jahat. Ih"
"Heha, becanda lah Ran, buat kamu nih" Sambil menggeser gelas lebih dekat dengan ku
"Ga mau ah. Ga ikhlas"
"Yaudah"

Dan setelah itu aku dan ka Fana diam sampai ahirnya makanan kami berdua sudah habis. Aku meletakan piring ku di meja. Aku pun ingin minum. Tapi, serasa nya udah pewe gitu tuh. Jadi males berdiri. Ku lirik ka Fana sedang meminum air nya. Sementara gelas yang satunya lagi masih ada di hadapanku. Ku ambil saja deh :D

"Runi? Minum nih?"
"He'eh, kenapa ka? Salah?"
"Kan, tadi katanya ga mau"
"He, ga jadi ka"

Garing banget sih itu percakapan. Bosen deh, hari ini bakalan di rumah aja sama ka Fana, bengong aja nontonin tipi sama makan keripik. Euh, bosen ah. Aku sudah dapat menebak hari ini akan sangaaat tidak seru dan tidak berkesan juga. --" aahh.. MALES. Tapi tiba-tiba..

Khe.. Maaf dipotong nya bener-bener asik
Ceritanya lagi seru, tapi udah di potong
(sok ke-pede-an)
Tapi itulah temen-temen
Mau tau kelanjutannya?
Jangan menyerah, jangan
putus asa, nantikan
terus kelanjutannya di
"Menu Blog"